
Top Tens Things – Scientists continue to uncover the secrets behind the longest lived animals wild, mengungkap bagaimana spesies tertentu mampu bertahan selama ratusan tahun di laut dalam, daratan terpencil, hingga lingkungan kutub yang ekstrem.
Penelitian tentang longest lived animals wild membantu ilmuwan memahami proses penuaan, ketahanan sel, dan adaptasi lingkungan ekstrem. Hewan dengan usia sangat panjang sering memiliki metabolisme lambat, pertumbuhan yang juga lambat, dan gaya hidup yang hemat energi. Di sisi lain, tekanan predator yang rendah dan habitat relatif stabil memberi mereka peluang besar untuk hidup lebih lama.
Faktor genetik berperan penting, namun kondisi lingkungan seperti suhu rendah, ketersediaan makanan, dan minimnya gangguan manusia juga menentukan. Karena itu, daftar hewan berumur panjang sering didominasi spesies laut dalam, hewan kutub, dan reptil besar yang terlindungi oleh cangkang atau ukuran tubuh.
Hiu Greenland (Somniosus microcephalus) menjadi simbol ekstremnya kemampuan hidup panjang di alam liar. Studi menggunakan penanggalan lensa mata menunjukkan beberapa individu mungkin berusia lebih dari 400 tahun. Hewan ini tumbuh sangat lambat, hanya sekitar 1 cm per tahun, dan hidup di perairan Arktik yang gelap serta sangat dingin.
Suhu rendah memperlambat metabolisme hiu ini secara drastis. Akibatnya, kerusakan sel terjadi lebih pelan dibanding hewan lain. Selain itu, hampir tidak ada predator alami bagi hiu Greenland dewasa, sehingga risiko mati akibat pemangsaan jauh berkurang. Meski begitu, ancaman perikanan dan perubahan iklim mulai menekan populasinya.
Ocean quahog (Arctica islandica) adalah kerang laut dalam yang dikenal memiliki garis pertumbuhan pada cangkang, mirip cincin pohon. Beberapa individu tercatat berumur lebih dari 500 tahun. Kerang ini hidup terkubur di dasar laut Atlantik Utara dan bergerak sangat sedikit sepanjang hidupnya.
Kecepatan hidup yang sangat lambat dan lingkungan yang dingin menjadikan mereka contoh klasik longest lived animals wild dari kelompok invertebrata. Pola hidup pasif mengurangi risiko cedera dan penggunaan energi, sehingga sumber daya tubuh lebih fokus pada pemeliharaan sel.
Baca Juga: Lifespan and ageing mechanisms in long‑lived animal species
Kura‑kura raksasa dari Galapagos dan Seychelles sering mencapai usia lebih dari 100 tahun, dengan beberapa individu diduga mendekati dua abad. Cangkang besar dan tubuh yang kokoh memberikan perlindungan fisik yang efektif dari predator. Selain itu, kura‑kura memiliki metabolisme sangat lambat dan bisa bertahan tanpa makanan dalam waktu lama.
Penelitian genetik menemukan bahwa beberapa spesies kura‑kura memiliki mekanisme perbaikan DNA yang sangat efisien. Hal ini membantu mencegah akumulasi kerusakan sel seiring usia. Sementara itu, gaya hidup tenang dengan sedikit stres lingkungan ikut memperpanjang harapan hidup mereka.
Paus bowhead yang hidup di perairan Arktik dikenal dapat melampaui usia 200 tahun. Jaringan lemak tebal melindungi mereka dari dingin ekstrem, sementara ukuran tubuh raksasa mengurangi ancaman predator setelah dewasa. Analisis jaringan menunjukkan adanya adaptasi khusus yang melindungi mereka dari kanker dan penuaan dini.
Seperti banyak longest lived animals wild lain, paus bowhead tumbuh perlahan dan bereproduksi dengan interval panjang. Strategi ini berisiko bila populasi ditekan perburuan, namun memberi kesempatan individu yang bertahan untuk hidup sangat lama di lingkungan yang relatif stabil.
Berbeda dari kebanyakan ikan, beberapa spesies rockfish Pasifik dapat hidup lebih dari 150 tahun. Mereka tinggal di perairan dingin dan dalam, bergerak relatif sedikit, dan memiliki laju pertumbuhan yang sangat pelan. Kombinasi ini mengurangi stres fisiologis sepanjang hidup.
Analisis pada rockfish memperlihatkan variasi gen yang berkaitan dengan perbaikan DNA dan kontrol peradangan. Temuan ini menarik perhatian peneliti penuaan, karena menunjukkan bahwa perubahan kecil pada lintasan biologis bisa menciptakan perbedaan besar dalam harapan hidup.
Selain kerang ocean quahog, beberapa spons laut dalam diduga berusia ribuan tahun berdasarkan analisis pertumbuhan dan sedimen. Struktur tubuh sederhana dan pergantian sel yang terus‑menerus membantu mereka menghindari penumpukan kerusakan. Meski sulit memverifikasi usia pasti, bukti menunjukkan banyak spons hidup jauh melampaui umur manusia.
Fenomena ini menempatkan mereka di jajaran longest lived animals wild yang paling ekstrem. Kehidupan di laut dalam yang gelap, sejuk, dan stabil menyediakan kondisi ideal untuk mempertahankan fungsi biologis dalam jangka waktu luar biasa panjang.
Meneliti longest lived animals wild membuka peluang besar untuk ilmu kesehatan manusia. Adaptasi yang melindungi DNA, mengendalikan peradangan, dan menjaga stabilitas sel dapat menginspirasi terapi baru. Namun, keberadaan hewan berumur panjang ini juga mengingatkan pentingnya melindungi ekosistem laut dalam, habitat kutub, dan pulau terpencil yang menjadi rumah mereka.
Dengan menjaga populasi hewan berumur panjang, kita melindungi arsip hidup evolusi yang tak ternilai. Di saat yang sama, manusia memperoleh wawasan tentang bagaimana kehidupan bisa bertahan melampaui batas usia biasa, sebagaimana ditunjukkan para perwakilan paling tangguh dari longest lived animals wild yang tersebar di seluruh planet.